Mungkin ada beberapa orang menanyakan tentang apa atau bagaimana aktifitas grup Mecakawani Adventure ini. Mengapa sangat ramai di bahas dalam bentuk media ketimbang dunia nyata? Dimana mereka? 

Selamat datang di artikel ini, di mana admin akan ulas tuntas sebuah grup penggiat alam bebas yang terlahir di Sukabumi ini. Sebuah judul pertanyaan di atas mungkin bisa menjadi perwakilan akal kamu yang penasaran dan ingin tahu, apa itu mecakawani?

Mecakawani Adventure. Kami sebenarnya membentuk grup ini bukanlah satu kelompok orang-orang yang menggemari naik gunung. Akan tetapi, kami adalah sekelompok orang yang memiliki hobi sama, yaitu jalan-jalan. Jalan-jalan di sini bukan maksud dari istilah kata shoping ke mall ya geng. Banyak orang menyangka bahwa kami adalah komunitas pendaki gunung akibat logo kuning kami yang memperlihatkan solo backpacker yang sedang mendaki puncak gunung. Pemikiran kamu yang kami tolak atas dasar tema grup pendaki gunung bukan berarti pula kami tidak suka mendaki gunung. Mecakawani berdiri atas dasar sekelompok orang yang hobi berpetualang. Mengapa kami memilih tema grup kami sebagai "penggiat alam bebas?" Karena memang di situlah letak fakta apa yang sering kami aktifitaskan.

Kami memilih tema penggiat alam bebas 'pun mengartikan bahwa berarti "petualangan" akan meliputi semua aktifitas yang berbau petualangan. Tentu saja, mendaki puncak gunung pun kami masukkan dalam kategori hal yang sama. Namun, yang sering kami lakukan bukanlah mendaki gunung. Kami tahu, mendaki puncak gunung itu terbilang puncaknya aktifitas petualang, dan jiwa kami belum sampai pada titik itu. Mecakawani tidak menargetkan bahwa kami harus menaklukan setiap puncak gunung di Indonesia untuk menancapkan satu bendera.

Aktifitas yang sering kami lakukan ialah berkemah di tempat-tempat yang sedikit orang menjamahnya. Tak luput dari itu, kami selalu suka untuk mensurvei tempat baru. Entah itu tempat yang belum pernah terjamah manusia, ataupun tempat yang ramai orang bicarakan. Aksi petualangan kami cukup terbilang survivor. Karena, hampir dalam setiap aktivitas petualangan yang kami lakukan tidak pernah sama sekali berjalan mulus sesuai ekspektasi.

Kami punya satu kisah. Dimana kisah ini adalah kisah yang paling karam dalam aksi petualangan kami. Kala itu pada tahun 2012, sejak kami masih setingkat SMP, kami pernah melakukan kemah di puncak pegunungan karang numpang dalam konsep kegiatan menyambut tahun baru 2013. Saat itu, apa yang kami bawa benar-benar sangat minim untuk suatu petualangan. Tanpa tenda, juga logistik yang sangat sedikit. Aksi saat itu sangat gagal karena pada puncak acara, ketika momen kembang api yang seharusnya kami luncurkan detik itu juga, kami terpaksa harus turun gunung. Jam dua belas malam dengan keadaan cuaca gerimis, kami turun dari dataran tinggi itu dengan berlarian. Mengapa?

Jadi, pada awal cerita, saat itu salah satu anggota kami melakukan Shalat malam sendirian. Maksud hati ingin meminta pertolongan pada sang maha cipta untuk di berhasilkannya acara yang kami buat secara dadakan itu. Setelah selesai melakukan shalat malam, anggota yang bernama Rifki berhalusinasi melihat sosok bayangan hitam besar sedang terjaga di balik batuan karang besar seperti memperhatikan kami yang tengah kedinginan. Cuaca pada puncak malam di kala itu sedang gerimis.

Kembang api yang kami bawa sempat kami nyalakan, tapi dia tidak mau meluncurkan api. Gagal. Rifki sempat memberi perintah untuk tidak melihat kebelakang saat peristiwa itu terjadi. Maksud hati ingin agar semua temannya tidak mengalami keterkejutan hebat saat melihat hal yang sama, melainkan itu menjadi sebuah kalimat yang langsung membuat mental teman-teman yang lain down, sekaligus jiwa yang mulai ketakutan. Akibat rasa penasaran tinggi, Syahlan dengan sengaja mencoba menoleh kebelakang. Awalnya tidak nampak apapun darinya. Namun lama-lama, dia jadi diam. Wajahnya mulai terlihat pucat. Waktu itu kami masih sangat kecil dan polos. Kami pikir itu hal yang wajar. Mungkin akibat kedinginan hebat karena gerimis yang tak kunjung usai waktu itu. Kami berinisiatif memberinya beberapa lapis jaket yang kami pakai, namun tetap saja, bukan sebab ia kedinginan, melainkan sesuatu telah membuat Syahlan jatuh akal.

Dari situlah puncak tragedi terjadi. Kami sepakat untuk kembali ke rumah detik itu juga. Karena dirasa cuaca, serta situasi yang tidak lagi bersahabat. Kami bergegas turun. Syahlan kami tarik. Dia nampak masih setengah sadar. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kami lari turun gunung. Penyambutan gagal, makanan habis, baju semua kotor, dan badan luka-luka. Namun, alhamdulillah kami sampai di pemukiman warga dengan selamat. Tak banyak orang diluar rumah saat itu, karena sudah sangat malam.

Disini, admin masih punya beberapa gambar waktu tahun tersebut.

Jaket biru muda, Rifky. Jaket merah Septa. Dibelakang Septa, Syahlan. Fajar yang pakai topi. Dibelakangnya ada Azis. Yang duduk kiri baju biru Algi, dan di kanan Renaldi. Saya sendiri yang memotret


Benar-benar survivor, atau sangat bodoh? Itu tergantung penilaian kamu pada kami. Lalu, apakah setelah kejadian tersebut kami merasa kapok? Tidak! Tidak sama sekali. Bahkan setelah kami keluar dari hutan pegunungan tersebut, kami malah tertawa dan merasa berhasil melewati satu ujian mengerikan. Bahkan, pada tahun yang sama dibulan Juli 2013, kami melakukan aksi mendaki kembali ke puncak itu. Dan masih saja tanpa membawa tenda, juga makanan yang cukup.


Berikut pula admin masih memiliki beberapa fotonya. Lihat tanggal dan jam pada foto (beberapa foto diambil dari kamera ponsel Sony Ericsson K550i)


Kamu lihat? Kami bahkan menemukan satu terpal tak terpakai yang saat itu juga kami gunakan untuk tempat berteduh (bivak). 


Aksi kami bukan untuk disengaja survivor. Hanya karena kami yang mendirikan grup ini pun dengan cara yang tidak sengaja, kami hanya memiliki hobi sama, dan terciptalah grup Mecakawani sebagai badan aktivitas kami. Kami tidak ada pemasukan sama sekali, tidak ada apapun yang dapat kami jual. Dan 90% anggota kami adalah pengangguran. Dari sana, kami hanya ingin tetap berpetualang meski tanpa peralatan. Maka dari itulah tercipta sebuah aksi petualangan yang bisa dibilang asal-asalan. 


Disisi lain tentang hal itu. Kami masih punya moral serta tabiat baik menjaga lingkungan. Kami sangat paham betul bahwa bumi dan manusia memiliki timbal balik yang sangat luar biasa. Kita menjaganya, maka dia akan melindungi kita. Begitupun sebaliknya. Poinnya, sopan santunlah saat menjelajahinya, maka bumi akan mempersilakan kita melangkah.


Sampai sini, apa rasa penasaranmu cukup terbayar? Jika masih ada pertanyaan lain, silakan untuk mengirim mail pada kami di sendfile.mecakawani@gmail.com atau langsung kirim pesan di Fanspage kami disini. 

Post a Comment