Sebelumnya kami ucapkan selamat hari raya Idulfitri 1442H , mohon maaf lahir batin. Seperti yang telah kita ketahui bahwa untuk saat ini kondisi bumi pertiwi sedang genting oleh maraknya beragam berita tentang Corona. Kabar yang semula baik-baik saja berubah menjadi kondisi yang tidak sedang ada baiknya. Mental kita seolah tergoncang hebat oleh kabar dari kabar yang seringnya kita dengar. Yang semula tidak apa-apa berubah menjadi hal yang dipertimbangkan kita untuk tidak kemana-mana. Sudahlah, kami juga tidak minat membahas Corona di blog kami ini. Kembali ke poin utama.
Ingat serunya event besar dari Mecakawani yang di kategorikan untuk umum? Ya, Add Friend Tour. Salah satu nama dari tiga kategori acara yang di usung Mecakawani ini selalu menjadi acara yang di nanti selepas hari raya Idulfitri. Acara yang bertema santai, atau sekadar staycation ini sudah menginjak episode ke 2 yang dilaksanakan di Ujung Genteng, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, juni 2019 lalu.
Berselang beberapa bulan, di media lain kami kabarkan pada publik bahwa Add Friend Tour 3 akan segera dilaksanakan, tepat pada waktu yang sama, yaitu selepas hari raya. 2020 lalu kami kabarkan di media Facebook, Instagram, ataupun Twitter kami untuk akan segeranya dirilis kembali Add Friend Tour 3. Namun, kondisinya berkata lain. Pada tahun itu justru berita tersebut diatas adalah masa puncaknya. Sangat genting, sangat panas. Kami hanya bisa berencana, tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selepas masanya tiba. Akhirnya Add Friend Tour 3 di 2020 batal kami laksanakan.
Di pertengahan tahun 2020, berita itu hampir hilang. Kami segera beranggapan bahwa kami harus laksanakan event besar kami di tahun 2021, tepat hari ini, kami berpikir ulang, sepertinya tidak akan ada lagi. Berita tentangnya selalu menjadi rumor hebat yang membuat otak semua orang yang semula baik-baik saja menjadi waspada. Tidak kah mereka berpikir bahwa mereka telah sempurna menghipnotis mental masyarakat yang biasa saja, menjadi takut untuk melakukan apa-apa.
Maaf jika kami beropini demikian. Mengingat peristiwa omnibus law di waktu itu yang memicu jutaan buruh untuk melakukan aksi demokrasi memblokir jalan, dan membubarkan karyawan pekerja di perusahaan mana pun. Mereka berkerumun, tanpa arah yang pasti akan kemana tujuan mereka setelahnya. Mereka hanya melakukan aksi mogok kerja untuk menolak omnibus law. Apa yang terjadi setelahnya? Adakah marak berita yang beredar tentang meningkatnya korban Corona akibat aksi berkerumunnya banyak orang disana? Koreksi jika kami salah. Mohon maaf lahir batin. Terima kasih.
MECAKAWANI adventure
Sukabumi, 12 Mei 2021

إرسال تعليق