Kita pernah bersama-sama menjalani kisah yang teramat sulit untuk di perankan diri kita masing-masing. Pada masa itu kita telah cukup di bahagiakan dengan hanya saling berbagi tawa tanpa campur materi di dalamnya.

2015 lalu, kita berencana untuk memindahkan obrolan-obrolan kita di ruang yang lebih terbuka. Salah satu dari kita mengajukan suara. Lalu kita sepakat dan memilih tempat itu hingga malam bertemu pagi.

Awalnya dari kita hanya beberapa. Kemudian beberapa lainnya di antara kita ikut serta. Ingat pada masa itu? Saat kita berdiskusi bersama menyiapkan perlengkapan, serta peralatan apa saja yang harus dibawa untuk sesampainya kita di sana, salah satu dari kita berbisik samar; tiga belas pria tangguh dengan karakter yang berbeda.

Apa kabar? Lama ya kita tidak saling sapa. Kita lagi dibuat sibuk-sibuknya sama urusan dunia. Padahal saja, toh kita bisa tetap baik-baik saja, meski tanpa apa yang sebenarnya sedang kita kejar, bukan? Tapi sekali lagi memang faktor lingkungan, dan perubahan era globalisasi membuat masing-masing dari kita memilih untuk pergi. Istirahat sementara. Sebab kita berpikir akan ada lagi masanya tiba. Tapi tiba-tiba masa itu seolah-olah tidak lagi ada.

Masing-masing dari kita mulai mengingat masa-masa itu. Beberapa dokumentasi berhasil membuat kita menjadi terharu akan apa yang pernah kita lakukan dulu.

2015 lalu bukanlah jangka waktu yang pendek. Terasa baru kemarin kita melakukan hal yang sedemikian rumitnya membuat perjalanan kita semakin lelah menelusuri hutan. Mental kita dibuat goyah dengan seringnya dipertemukan perdebatan-perdebatan kecil di tengah kaki melangkah.

Beberapa dari kita menunggu kita yang dahulu kembali. Beberapa dari kita berdoa untuk kita yang dulu pernah sama-sama tertawa. Beberapa dari kita menyimpan harap untuk kita bisa bercengkrama di terik matahari, di remang cahaya bulan, berikut taburan bintang yang ikut serta berpesta dalam satu lagu yang kita nyanyikan dulu.

Cepat sembuh, Indonesiaku

Mecakawani, 12 Juli 2021

Post a Comment