Sebetulnya, kami membuat perubahan ini dengan menempatkan logo utama dan satu symbolis Mecakawani. Satu symbol kami pasang sebagai karakter profile kami di semua perangkat media. Dan satu logo utama sebagai bentuk keutuhan Mecakawani secara menyeluruh. Sebelum kami meutuskan untuk mengganti logo, banyak pertimbangan dan diskusi yang matang. Alasannya bisa rekan-rekan baca di sini » Selamat datang era baru
Sesuai dengan pertanyaan di atas: Alasan Berganti Logo
Kami ingin membuat gebrakan baru di tahun baru. Kami juga sekaligus ingin menghilangkan beberapa riwayat yang kurang mengenakan selama kiprah Mecakawani bersama logo lama. Kami sangat tahu betul bahwa pergantian logo adalah hal yang sakral, dan berat untuk dipertimbangkan. Akan tetapi hasil dari diskusi kami sebelumnya, kami setuju atas pergantian ini.
Ada beberapa hal yang akan kami jabarkan tentang alasan ini;
1. Visi misi yang tidak berjalan
Visi misi yang sudah beku sejak lama membuat kami juga bingung untuk membuat kegiatan berikutnya, dengan tidak leluar dari konsep visi misi pada saat itu. Contoh kecil: kami ingin membuat suatu acara sederhana seperti acara ngeliwet (misalkan) lantas, harus dengan konsep seperti apa agar bisa tidak keluar dari visi misi pertama kami? Tidak ada! Maka kami keluar dari konsep itu, dan membuat konsep acara sendiri. Di sini, visi misi sudah stak, dan fatal untuk satu organisasi.
2. Keegoisan peserta di acara besar
Dari sekian lama Mecakawani berdiri, kami tidak percaya bahwa di ujung riwayat harus saling mengandalkan ego sendiri-sendiri. Dari beberapa acara yang sudah kami buat, semuanya tidak lepas dari mengandalkan beberapa peserta (pada semua acara) saja. Dan itu tertutup rapi oleh si pembuat acara dari kami ini. Orang-orang (di luar acara) mungkin menyangka jika acara yang Mecakawani buat saat itu sungguh luar biasa. Sukses, tersusun, dan tampak mengesankan. Sebagian mungkin juga iri karena tidak bisa mengikuti acara besar Mecakawani pada saat itu. Acaranya sangat sukses. Sangat-sangat sukses. Ya. Sukses di banyak mata orang karena tertutupi rapi di balik ke egoisan peserta lain di dalamnya. Bayangkan saja jika misalkan kamu membuat satu acara besar, dan harus merogoh kocek yang cukup besar pula. Acara yang seharusnya berjalan atas dukungan semua peserta acara (untuk patungan dana) tapi malah kamu sendiri yang harus merogoh koceknya sendirian, demi mensukseskan satu acara besar yang dibanggakan. Jelas, ini tidak bisa terulang di acara berikutnya. Jadi bagai mana, bergantilah logo, berikut visi misi baru.
3. Terlupakan
Logo kuning segitiga yang sudah terlupakan. Dari poin dua, kami pikir setelah acara itu selesai, rekan-rekan mecakawani lain dapat terkesan dan bangga menjadi bagian dari peserta acara. Tapi ternyata kami salah besar. Beberapa peserta bahkan melupakan, dan tidak menjadikan acara itu sebagai riwayat acara yang paling berkesan dari perjalanannya. Ini benar-benar membuat Mecakawani kecewa. Tapi tidak apa-apa, karena dopamin setiap orang memanglah berbeda. Dan titik bahagianya tidak melulu sama. Tapi kami hanya mau; tolonglah, paling tidak masih menghormati kami sebagai satu organisasi yang besar di mata kalian! Pada saat ini, Mecakawani bahkan sudah terlupakan.
Akan banyak lagi poin-poin alasan mengapa Mecakawani harus berganti logo. Tapi tidak terlalu penting untuk kami bahas lagi. Karena alasan itu cukup di diskusikan di pertemuan sebelumnya. Sementara tiga poin alasan di atas adalah mutlak. Jadi, itu saja yang sepertinya bisa kami sampaikan di tulisan kali ini. Terima kasih.

Posting Komentar